Shalawat dan salam merupakan penghubung
ruhani seorang mukmin antara Nabi Saw. Ungkapan ini sesuai dengan hadis
yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ud bahwa Nabi Saw bersabda:
“Allah mempunyai malaikat yang bertebaran (sayyahin) di bumi. Mereka menyampaikan kepadaku salam kalian.” (HR. al-Nasa’i/1282, kualitas sahih).
Hadis ini diperkuat oleh riwayat lain dari Abu Hurairah bahwa Nabi
Saw bersabda: “Siapa yang menyampaikan salam kepadaku, niscaya Allah
mengembalikan ruhku sehingga aku dapat menjawab salamnya.” (HR. Abu
Dawud/2043). Imam Abu Dawud juga menambahkan dalam riwayat lain,
“Bershalawatlah kepadaku, karena shalawatmu sampai kepadaku darimana pun
kamu berada.” (HR. Abu Dawud /2044).
Hadis-hadis tersebut merupakan dalil terkuat yang dapat mengobati
kerinduan para pencinta dan perindu Nabi Saw. Mereka yang menyampaikan
rasa cinta dan melepas kerinduan terhadap Nabi Saw dengan bershalawat
kepadanya, niscaya dijawab dan dibalas oleh Nabi Saw. Oleh karena itu,
wajar jika mereka sering mendapatkan “kunjungan” Nabi Saw melalui
mimpi-mimpi indah. Imam-imam ahli hadis dan tasawuf adalah golongan yang
paling banyak bershalawat kepada Nabi Saw, sehingga mereka sering
mendapatkan kenikmatan mimpi bertemu Nabi Saw. Bagaimana tidak? Setiap
kali disebutkan nama-nama Nabi Saw, mereka selalu berShalawat kepadanya.
Di antara mereka ada bermimpi bertemu Nabi Saw, lalu bertanya tentang
kualitas hadis-hadis yang diperolehnya. Ini sebagaimana terjadi pada
Imam al-Thabrani pengarang al-Mu‘jam. (Ibn Mandah, Tarjamah al-Thabrani,1).
Lain halnya dengan Muḥammad bin Ramḥ murid Imam Malik dan al-Tsauri.
Ketika bingung dengan perselisihan pendapat kedua gurunya, maka Muhammad
bin al-Rumh bermimpi bertemu Nabi Saw yang berpesan agar mengikuti Imam
Malik. (Ibn Abu Hatim, al-Jarh wa al-Ta‘dil, 1/28).
Kisah-kisah lain juga terjadi pada Imam al-Bukhārī dan murid-muridnya.
Ini dapat ditemukan dalam kitab-kitab biografi ulama-ulama Hadis.
_____________
DR. Arrazy Hasyim., MA
Sumber: https://bit.ly/2RB1p2t
Post a Comment