Analisa Kullu Dalam Hadis Bid’ah (1)

KAJIAN MAKNA "KULL" (كل )

Rasulullah SAW bersabda:
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru, dan كل
(setiap/sebagian besar) bid'ah (hal baru) adalah sesat. (HR Muslim dalam Kitab Jumat)
Sebagian orang menjadikan hadits ini sebagai dalil semua bidah (hal baru) adalah sesat. Tidak ada bidah yang baik karena makna kullu adalah semua. Di atas dikatakan kullu bidah dhalalah, artinya semua bidah adalah sesat.
Makna Hadits كُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
Memang secara zahirnya hadits كُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة menyatakan bahwa semua jenis bidah adalah sesat. Namun jika kita maknai demikian akan terjadi kontradiksi dengan hadits dan nash lainnya. Seperti dengan hadits:
مَنْ سَ ن فِ الِْْسْلَامِ سُن ة حَسَنَة فَ لَه أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بَِِا ب عَْدَه مِنْ غَيِْ أَنْ ي نَْ قُصَ مِنْ
أُجُورِهِمْ شَيْء وَمَنْ سَ ن فِ الِْْسْلَامِ سُن ة سَيِّئَة كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بَِِا مِنْ ب عَْدِه مِنْ غَيِْ أَنْ ي نَْ قُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Barangsiapa yang menciptakan satu gagasan yang baik dalam Islam, maka dia memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang melaksanakannya dengan tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barangsiapa yang menciptakan satu gagasan yang jelek dalam Islam, maka dia akan terkena dosanya dan juga dosa orang-orang yang melaksanakannya dengan tanpa dikurangi sedikit pun” (HR Muslim)
Juga perkataan Sayidina Umar ra ketika melihat jamaah Tarawih yang digagasnya, نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِه Sebaik-baiknya bidah adalah ini (HR Bukhari). Hadits dan ucapan Sayidina Umar ra ini jelas mengindikasikan adanya Bidah yang baik.
Dalam ushul fiqih disebutkan jika ada dua atau lebih nash yang dzahirnya saling kontradiksi, maka harus dicari titik temun selama memungkinkan. Tidak boleh kita secara langsung membuang satu nash dan berpegang pada nash lain karena mengikuti hawa nafsu saja. Bagaimana titik temu antara hadits-hadits tersebut?

1.Makna Kullu: Sebagian
Titik temu hadits-hadits tersebut adalah mengartikan kullu dalam hadits كُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة dengan sebagian. Jadi arti hadits tersebut adalah : sebagian bidah adalah sesat. Artinya ada sebagian bidah yang baik yaitu yang diisyaratkan oleh ucapan Sayidina Umar ra.
Kullu dengan makna sebagian bukanlah mengada-ada. Di dalam bahasa Arab kata kullu tidak selalu bermakna semua, terkadang kullu juga bermakna sebagian. Imam Fairuzabadi dalam kitabnya Qomus al Mukhith mengatakan:
الكُلُّ، بِال ضمِّ اسْمٌ لَِِمِ يعِ الْأَجْزاءِ، لِل ذكَرِ والْأُنْ ثَى، أَوْ ي قَُالُ كُلُّ رَجُلٍ، وَكُل ة امْرَأَةٍ، وَكُلُّهُ ن
مُنْطَلِقٌ وَمُنْطَلِقَةٌ، وَقَدْ جَاء بَِِعْنَ ب عَْضٍ

Kullu dengan dhomah, adalah nama bagi semua bagian. Baik bagi kata maskulin atau feminim. Ada pula yang mengatakan bagi maskulin kullu rojul bagi feminim kullatu imroatin. (dikatakan) Kulluhunna muntholiq atau muntholiqoh. Dan sungguh telah datang (kullu) dengan makna sebagian.
Al Murtadho Az Zabidi dalam Kamusnya Tajul `Arus mengatakan:
قَالَ ابْنُ الْأَثِيِْ : مَوْضِعُ كُ ل اَلِْْحَاطَة بِالَِْمِيْعِ وَقَدْ جَاء اسْتِعْمَالُه بَِِعْنَ ب عَْضٍ وَعَلَيْهِ حُُِلَ قَ وْلُ
عُثْمَانَ رضي الله عنه حِيَْ دُ خِ لَ عَلَيْهِ فَقِيْلَ لَه : أَبِأَمْرِكَ هَذَا ؟ فَ قَالَ : كُلُّ ذَلِكَ أَيْ ب عَْضُه -
عَنْ أَمْرِيْ وَب عَْضُه بِغَيِْ أَمْرِيْ
-
Berkata Ibnu Atsir, topik dari kullu adalah makna yang mencakup keseluruhan. Namun sungguh telah datang penggunaannya dengan makna sebagian. Atas makna ini diarahkan ucapan Sayidina Utsman ra, Ketika beliau didatangi seseorang kemudian ditanya, “Apakah ini perintahmu?” Beliau ra menjawab, “Kullu (sebagian) itu adalah perintahku dan sebagiannya bukan perintahku.”
Semakna dengan ini apa yang disebutkan oleh Imam al-Akhdhori dalam kitab mantiq “Sulamul Munawraq” yang telah diberi syarah oleh Syeikh Ahmad al-Malawi dan diberi Hasyiah oleh Syeikh Muhamad bin Ali as-Shobban:

اَلْكُلُّ حُكْمُنَا عَلَى الْمَجْمُوْعِ *** كَكُلِّ ذَاكَ لَيْسَ ذَا وُقُ وْعِ
وَحَيْثُمَا لِكُلِّ فَ رْدٍ حُكِمَا*** فَإِن ه كُلِّي ة قَدْ عُلِمَ ا
"Kullu itu kita hukumkan untuk majmu’ (sebagian atau sekelompok) seperti ‘Sebagian itu tidak pernah terjadi’. Dan jika kita hukumkan untuk tiap-tiap satuan, maka dia adalah kulliyyah (jami’ atau keseluruhan) yg sudah dimaklumi."
Jelas bahwa secara bahasa kullu bisa bermakna semua atau sebagian.
Memaknai hadits di atas dengan sebagian bidah juga bukan pendapat baru. Ulama sekaliber Imam Nawawi ra dalam Syarah Muslim mengatakan mengenai hadits kullu bidah dholalah:

قَ وْلُه وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة هَذَا عَام مََْصُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ .
“Sabda Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam, “Kullu bid’ah dholalah”, ini adalah kata-kata umum yg dibatasi jangkauannya. Maksud “Kullu bidah dholalah”, adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Syarah Shahih Muslim, 6/154).
Penggunaan kata kullu dengan makna sebagian juga umum dalam percakapan bahasa Arab, bahkan di dalam al Quran pun ada beberapa contohnya. Di antaranya adalah:

● Contoh lafadz Kullu (كل ) bermakna sebagian dalam Al Quran:

a).Surat al-Ahqof: 25 tentang hancurnya segala sesuatu lantaran tiupan angin, yaitu:
تُدَمِّرُ كُ ل شَيْءٍ بِأَمْرِ رَب هَِّا فَأَصْبَحُوا لَ ي رَُى إِ ل مَسَاكِنُ هُمْ كَذَلِكَ نََْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيَ
Angin yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. (QS al- Ahqof: 25)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa segala sesuatu ( كُلَّ شَيْئٍ )" dihancurkan oleh tiupan angin, namun ternyata rumah-rumah mereka yang tidak berdosa tidak ikut hancur. Ini menunjukkan tidak semua kata kullu (كُلَّ ) itu selalu berarti "semua ".

b). Surat al-Anbiya': 30 tentang tidak semua benda yang ada di bumi ini, terbuat dari Air, yaitu
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْئٍ حَي
Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air. (QS al-Anbiya': 30) . Kata segala sesuatu ( كُلَّ شَيْئٍ ) pada ayat ini tidak bisa diartikan "segala sesuatu tercipta dari air," tetapi harus diartikan "sebagian dari sesuatu ( بَعْضُ شَيْئٍ ) tercipta dari air." Terbukti ada benda-benda lain yang diciptakan Allah bukan dari air, misalnya pada ayat:
وَخَلَقَ الْجَآنَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
Dan Allah menciptakan Jin dari percikan api yang menyala (QS ar-Rohman:15)

c) Surat al-An'am ayat 44
فَ لَ ما نَسُوا مَا ذكُِّرُوا بِهِ فَ تَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْ وَابَ كُلِّ شَيْءٍ
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, kami pun membuka semua pintu-pintu segala sesuatu untuk mereka.(QS al-An'am 44) Lafadz ( كُلَّ شَيْئٍ ) pada ayat ini tidak bisa di artikan " pintu segala sesuatu dibukakan untuk mereka", karena realitanya bahwa pintu rahmat tidak dibukakan untuk mereka disebabkan kelalaian mereka, maka makna كُلَّ شَيْئٍ pada ayat ini adalah sebagian sesuatu.

d) Surat an-Naml ayat 23 : tentang Ratu Bilqies yang diberikan ( مِنْ كُلِّ شَيْء )
إِنِّّ وَجَدْتُ امْرَأَة تََْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلََاَ عَرْشٌ عَظِيمٌAku menemui seorang wanita yang memerintahkan mereka dan dia diberikan segala sesuatu dan mempunyai arsy yang besar. (QS an Naml: 23)
Lafadz ( كُلَّ شَيْئٍ ) pada ayat ini tidak bisa diartikan segala sesuatu karena realitanya Ratu Bilqies tidak diberikan segala  sesuatu. Ratu Bilqies tidak mempunyai apa yang dimiliki Nabi Sulaiman, ini menunjukkan bahwa ia hanya diberikan sebagian saja bukan segala sesuatu.

Sumber: tulisan forum santri.net
>>Bersambung  ke bagian 2<<<<

Post a Comment

Previous Post Next Post